Cari

March 24, 2018

Trendsetter atau Follower

Akankah kita jadi follower atau menjadi trendsetter?. pertanyaan yang akan membuat kita cukup depresi, karena bayangan masa depan akan terpampang namun agak buram. Buram saat tidak ada perencaan dan strategi. Trendsetter harusl berinovasi dan berani mengambil keputusan, saat salah satunya tidak ada maka pincanglah. Untuk follower, jadilah pengikut yang cerdas yang dapat memetik inspirasi untuk sebuah ide baru bukan menjadi plagiat yang meniru setiap gerak seseorang. Tidak perlu saya jelaskan tentang follower, cukup cermati kalimat sebelumnya. karena kata follower dalam artian kehidupan nyata dan bukannya dunia maya belaka, kata tersebut cenderung menjerumus kepada hal yang lebih negatif. Sebagai contoh demam Korea, tidak ada salahnya menjadi pengikut atau pecinta korea asal masih mampu membatasi diri, upss tetapi sebagai warga yang baik perlu juga loh ingat budaya sendiri. Mengingat mayosritas kita adalah Islam dan tentu sebagian besar tahu yang namanya baik dan tidak baik.
Kembali ke Korea, maksudnya kembali pada pembahasan. Gaya berpakaian yang terlalu berlebihan dan kadag terbuka sehingga menampkkan aurat, hemm. Syukur kalau pengikut K-Pop atau Korea belum merambat ke kalang anak yang masih belia menjelang remaja, karena masa itu cukup rentan dan berperan penting dalam pembentukan tingkah laku akibat masukan dari hal-hal seperti di atas. Saat hal seperti itu menjangkit dan mengakar tentu cukup sulit bagi mereka untuk berkembag dan menemukan idenya sendiri, lalu bagaimana caranya menjadi Trendsetter? saat virus tingkah negatif menggerogoti mindset mereka.


Salam Segaris Senja, maaf kalau tulisan ini tidak berfaedah maka abaikan


No comments:

Post a Comment